Teori Konspirasi Sebut AS Penyebab Kemunculan Cacar Monyet, Benarkah?

- Senin, 23 Mei 2022 | 17:13 WIB
Teori Konspirasi Sebut AS Penyebab Kemunculan Cacar Monyet, Benarkah? (Ilustrasi/Pixabay)
Teori Konspirasi Sebut AS Penyebab Kemunculan Cacar Monyet, Benarkah? (Ilustrasi/Pixabay)
 
AYOINDONESIA.COM -- Virus cacar monyet saat ini sedang menghantui sebagian dunia, terutama di Amerika Serikat (AS) dan Eropa. Hingga hari ini, para peneliti masih belum mengetahui mengapa virus tersebut kembali muncul, bahkan di negara-negara maju.
 
Kemunculan virus cacar monyet masih menjadi pertanyaan, namun para pengguna media sosial di China berspekulasi bahwa AS justru menjadi sumber infeksi cacar monyet
 
Infeksi virus cacar monyet menjadi topik paling populer di media sosial China bernama Weibo. Sementara itu, Pemerintah China belum berani menuduh AS dengan tuduhan yang sama seperti yang dilontarkan masyarakatnya. 
 
Dilansir dari BNN Bloomberg, Senin 23 mei 2022, tuduhan dari pengguna Weibo yang mengatakan AS menyebarkan virus cacar monyet berawal dari adanya laporan tahun 2021 tentang perencanaan kesiapsiagaan biosekuriti oleh organisasi non-pemerintah AS, yang mencakup skenario pandemi cacar monyet.
 
 
Hal itu kemudian ditafsirkan bahwa Pemerintah AS mengetahui bahwa wabah itu akan segera datang di masa depan. Tafsiran tersebut digunakan oleh seorang influencer nasionalis China bernama Shu Chang, yang memiliki 6,41 juta pengikut di Weibo. 
 
Dia memposting kalimat yang mengatakan bahwa rencana AS untuk membocorkan virus cacar monyet yang direkayasa secara biologis. Postingan ini lalu disukai oleh lebih dari 7.500 pengguna dan menerima lebih dari 660 komentar. 
 

Sebagai informasi, cacar monyet pertama kali diidentifikasi pada tahun 1950-an ketika dua wabah terjadi pada koloni monyet yang digunakan untuk tujuan penelitian. Kasus cacar monyet pada manusia pertama dilaporkan di tahun 1970, tepatnya di Republik Demokratik Kongo.

Penyakit ini sering disamakan dengan bentuk cacar ringan biasa. Sebelumnya, penyakit ini hanya terbatas terjadi di Afrika sebelum akhirnya menyebar ke seluruh Eropa dan Amerika Utara seperti saat ini. 

Editor: Nur Khansa Ranawati

Tags

Artikel Terkait

Terkini

Ini Hasil Pertemuan Jokowi dan Presiden Putin

Jumat, 1 Juli 2022 | 06:29 WIB
X