Kenapa Negara Tidak Mencetak Uang Sebanyak Mungkin untuk Memberantas Kemiskinan ?

- Selasa, 25 Januari 2022 | 05:19 WIB
ilustrasi BLT PKL dan warung Oktober 2021. (Pixabay)
ilustrasi BLT PKL dan warung Oktober 2021. (Pixabay)

AYOINDONESIA.COM -- Menurut penelitian Bank Dunia tahun 2015, sekitar 100 juta jiwa penduduk Indonesia hanya memiliki penghasilan Rp 330 ribu/bulannya. Banyak dari kita bertanya, kenapa negara kita tidak mencetak uang sebanyak-banyaknya saja untuk memberantas kemiskinan ?

Dilansir dari kanal YouTube – Kok Bisa ? yang diunggah pada 20 Januari 2016, intinya kita tidak bisa mencetak uang sebanyak-banyaknya karena hal itu bisa mengakibatkan kenaikan harga barang dan penurunan nilai uang itu sendiri atau yang biasa disebut sebagai inflasi.

Bagaimana hal itu dapat terjadi? Singkatnya, dalam suatu pasar, banyaknya jumlah uang beredar dan jumlah barang yang dibutuhkan haruslah seimbang.

Jika pemerintah mencetak terlalu banyak uang, kita juga akan memiliki lebih banyak uang dan tentunya membuat kemampuan membeli barang semakin tinggi. Akibatnya, jumlah barang yang ingin kita beli berkurang dan harganya pun ikut menyesuaikan.

Hal tersebut tidak mengubah apa-apa kecuali menurunkan nilai uang itu sendiri sehingga nilainya semakin lama semakin tidak berharga, karena jumlahnya yang terlalu banyak.

Fakta uniknya, cukup banyak negara di dunia ini pernah mengalami inflasi parah akibat mencetak uang yang terlalu berlebihan.

Salah satunya adalah negara Jerman setelah kalah pada perang dunia pertama dan harus membayar kerugian perang. Saking tidak berharganya, uang disana dipakai untuk mainan, menyalakan api kompor, hingga jadi penghias dinding dirumah.

Baca Juga: Whiz, Anak Asuh Ariel Noah Tereliminasi dari X Factor Indonesia Tadi Malam

Baca Juga: Hasil Piala Asia Wanita 2022: Timnas Putri Indonesia Kembali Menelan Kekalahan, Thailand Menang 4-0

Halaman:

Editor: Rizma Riyandi

Tags

Artikel Terkait

Terkini

Harga Emas Antam Kamis 19 Mei 2022 Naik Rp2.000

Kamis, 19 Mei 2022 | 09:38 WIB
X