4 Cara Memperbaiki Diri Menurut Imam Al-Ghazali

- Rabu, 26 Januari 2022 | 15:22 WIB
Cara Menahan Marah Menurut Al Ghazali dalam Ihya Ulumuddin
Cara Menahan Marah Menurut Al Ghazali dalam Ihya Ulumuddin

AYOINDONESIA.COM -- Manusia tempatnya salah. Tetapi, tidak boleh puas dengan ungkapan itu. Manusia berkewajiban terus dan terus memperbaiki dirinya sendiri.

Orang yang ingin memperbaiki diri, seperti dirilis NU Online, perlu melihat terlebih dahulu aib atau kekurangan yang ada pada dirinya. Dengan mengetahui aib dan kekurangan dirinya, ia dapat memperbaiki mana yang kurang pada dirinya.

Imam Al Ghazali dalam Kitab Ihya Ulumiddin mengatakan, bila menghendaki kebaikan pada seorang hamba, Allah membuat hamba itu melihat aibnya. (Abu Hamid Al-Ghazali, Ihya’ Ulumiddin, [Beirut, Darul Fikr: 2018 M/1439 H-1440 H], juz III, halaman 68).

Siapa saja yang mata hatinya tembus pandang, maka kekurangan dirinya akan tampak jelas baginya. Identifikasi atas aib atau kekurangan diri memungkinkan dia untuk memperbaiki kekurangan dirinya.

Adapun kebanyakan orang tidak memahami kekurangan dirinya. Ia melihat kotoran mata orang lain. Sedangkan batang kurma di depan mata tidak tampak. (Al-Ghazali, 2018 M/1439 H-1440 H: III/68).

Imam Al Ghazali menyebut ada 4 jalan untuk memperbaiki diri atau menginstrospeksi diri:

  1. Konsulasi dengan seorang guru yang memahami kekurangan dirinya dan dapat melihat kekurangan yang tersebunyi. Konsultasi seperti ini umumnya berlaku pada guru dan murid tarekat, santri, dan kiai.
  2. Mencari sahabat jujur yang dapat dipercaya, religius, dan taat pada nilai-nilai agama yang dapat melihat kekurangannya dan mengamati perilakunya baik lahir maupun batin, serta memperhatikannya. Sayyidina Umar bin Khattab ra mendoakan orang yang memberitahukan aibnya. Ia akan senang kalau ada sahabat yang mengoreksi kekurangannya.
  3. Mengambil manfaat dari mulut musuh atau hatersnya. Pandangan musuh biasanya memancarkan kekurangan-kekurangan diri kita. Terkadang, kekurangan kita yang disebutkan oleh musuh atau para pembenci kita lebih banyak daripada koreksi sahabat kita. “Koreksi” pembenci kita lebih bermanfaat daripada konsultasi sahabat sendiri.
  4. Banyak bergaul dengan masyaraat luas. Perilaku sahabat kita yang dianggap tercela di mata banyak orang anggap saja perilaku kita sendiri yang juga harus sedapat mungkin dijauhi karena orang beriman adalah cermin bagi yang lain.

Kita menganggap aib sahabat kita juga aib kita sendiri yang harus dijauhi karena apa yang tidak disenangi pada orang lain juga kemungkinan terdapat pada dirinya.

Pasalnya, perilaku kita berdekatan dengan sahabat kita baik terpuji maupun tercelanya.

قيل لعيسى عليه السلام من أدبك قال ما أدبني أحد رأيت جهل الجاهل شينا فاجتنبته

Halaman:

Editor: Dudung Ridwan

Sumber: NU Online

Tags

Artikel Terkait

Terkini

Aturan Qadha Puasa yang Mesti Kita Ketahui

Jumat, 13 Mei 2022 | 13:02 WIB

Khutbah Jumat Singkat : Soleh Setelah Ramadhan

Jumat, 13 Mei 2022 | 11:11 WIB
X