Naskah Khutbah Jumat Syawal: Ganti Takabur dengan Rendah Hati

- Kamis, 19 Mei 2022 | 12:58 WIB
Ilustrasi khubah Jumat. (Unsplash/Salman Saleem)
Ilustrasi khubah Jumat. (Unsplash/Salman Saleem)


Jamaah Jumat yang Berbahagia. Kita masih berada di bulan Syawal. Dan di antara kalimat yang paling mencolok dan berkumandang di mana-mana begitu Ramadhan berakhir adalah takbir.

Takbir secara bahasa berasal dari kata kabbara-yukabbiru yang berarti membesarkan atau mengagungkan. Siapa yang diagungkan? Tentu saja Dzat Yang Maha Besar, Allah Subhanahu Wa Ta'ala (SWT).

Tentunya kita masih ingat bahwa takbir betul-betul mewarnai peralihan masa dari Ramadhan menuju Syawal. Umat Islam di berbagai tempat menghidupkan malam hari raya dengan takbir.

Meski tidak diperkenankan melakukan takbir keliling, namun sejak malam hingga pagi hari, sejumlah masjid dan mushola memenuhi kegiatan dengan takbir.

Dalam shalat id pun kita dianjurkan menambah takbir 7 kali usai takbiratul ihram dan 5 kali saat memasuki rakaat kedua. Para khatib Idul Fitri disunnahkan memulai khutbah pertama dengan takbir 9 kali dan 7 kali pada khutbah kedua. Sementara dzikir yang paling dianjurkan bagi jamaah dalam momen-momen tersebut adalah melafalkan takbir.

Jamaah yang Dirahmati Allah. Takbir tentu lebih dari sekadar ucapan dan kata-kata. Di balik anjuran menggemakan takbir ada perintah untuk menganggap setara, kecil, rendah apa pun yang ada di alam fana ini karena yang Mahabesar hanya Allah. Dialah penguasa jagat raya ini. Tak ada satu urusan atau keberadaan pun yang luput dari genggaman-Nya.

Ini pula makna dari rabbul 'alamin. Allah bukan saja Tuhan bagi manusia melainkan Tuhan bagi seluruh eksistensi selain diri-Nya, termasuk hewan, tumbuhan, jin, malaikat, planet-planet, atmosfer, bumi, langit, surga, neraka, dan lain sebagainya.

Konsekuensi dari keyakinan semacam itu adalah timbulnya sikap rendah hati. Mengecilkan segalanya, tak terkecuali kekayaan dan jabatan, untuk semata-mata mengagungkan-Nya. Sikap ini sangat sulit dilakukan karena musuh terberatnya bukan saja setan, melainkan juga nafsu diri sendiri.

Orang mungkin saja terbebas dari keraguan mengimani keberadaan Allah seyakin-yakinnya tapi belum tentu ia berhasil membesarkan-Nya seagung-agungnya. Orang bisa saja sangat alim, rajin ibadah, mengklaim membela agama, namun apakah ia sudah benar-benar bersih dari menganggap lebih rendah orang lain--menganggap diri sendiri lebih selamat dari yang lain?

Hadirin Rahimakumullah. Kita tahu, iblis terjerumus bukan karena ia ingkar atas keberadaan Allah. Iblis tidak ateis. Mungkin soal ini keimanan, iblis melebihi manusia biasa.

Halaman:

Editor: Dudung Ridwan

Tags

Artikel Terkait

Terkini

Tata Cara Puasa Ayyamul Bidh, Puasa 13-15 Muharram

Selasa, 9 Agustus 2022 | 17:08 WIB

3 Keutamaan Membaca Surat Al Mulk Menurut Buya Yahya

Selasa, 9 Agustus 2022 | 15:48 WIB

Hari Asyura, Ini Amalan di 10 Hari Bulan Muharram

Senin, 8 Agustus 2022 | 06:56 WIB

Naskah Khutbah Jumat Singkat: Makna Kemerdekaan

Kamis, 4 Agustus 2022 | 07:09 WIB

Doa yang Diajurkan Dibaca Setelah Sholat Tahajud

Selasa, 2 Agustus 2022 | 14:16 WIB

Anjuran Sholat Tasbih di Awal Tahun Baru Hijriyah

Selasa, 2 Agustus 2022 | 13:41 WIB
X