Tempo Doeloe : Persaingan Bahasa Melayu, Bahasa Portugis, dan Bahasa Belanda di Indonesia

- Rabu, 10 November 2021 | 16:14 WIB
Pada abad ke-18, bahasa Melayu bersaing dengan bahasa Portugis dan bahasa Belanda.  (Sin Po, 10 November 1923)
Pada abad ke-18, bahasa Melayu bersaing dengan bahasa Portugis dan bahasa Belanda. (Sin Po, 10 November 1923)

AYOINDONESIA.COM – Pada abad ke-18, kedudukan Belanda sudah semakin kuat di Indonesia. Sementara Portugis jauh tersingkir. Walaupun demikian, dalam hal bahasa tidaklah demikian. Saat itu pengaruh budaya dan bahasa Portugis masih berakar kuat.

Khusus dalam soal bahasa, jejak Portugis masih berbekas kuat dalam kata yang kita gunakan saat ini. Sebutlah dalam kata minggu, meja, mentega, jendela, keju, sepatu, roda, gereja, dan kereta. Kata-kata itu semua diserap dari bahasa Portugis.

Tulisan di bawah ini menceritakan, pada abad ke-18 itu banyak Belanda totok yang sudah lupa lagi pada bahasa ibu mereka. Lebih-lebih orang Belanda yang sudah lama tinggal di Hindia Belanda kemudian menikah dengan pribumi dan beranak pinak Indo Belanda.

Baca Juga: Betulkah Sumpah Pemuda itu Hari Lahirnya Bahasa Indonesia ?

Alih-alih berbahasa Belanda, mereka bercakap-cakap dengan memakai bahasa Portugis atau… Melayu. Kalau diajak ngobrol dengan bahasa Belanda, jawabannya cuma senyam-senyum saja lantaran tak mengerti.

Pada 1698, seorang pimpinan Raad van Indie di Hindia Belanda atau Indonesia menikah dengan seorang wanita Belanda. Ternyata si perempuan Belanda itu tak bisa bahasa Belanda. Dia hanya bisa bicara dalam bahasa Portugis. Sedangkan anak-anaknya lebih parah lagi, hanya bisa bahasa Melayu yang memang sudah umum digunakan saat itu.

Sementara itu, khotbah di gereja-gereja juga jarang sekali menggunakan bahasa Belanda. Pada tahun 1675, dari 5 khotbah di gereja, hanya seorang pendeta yang khotbahnya disampaikan dalam bahasa Belanda. Empat khotbah lainnya disampaikan dalam bahasa Portugis atau Melayu.

Baca Juga: Mengenang Hari Pahlawan, Ini Sejarah Pertempuran Surabaya Setelah 10 November 1945

Baru pada awal abad ke-20 pengguna bahasa Belanda bertambah sebagai akibat dari sistem pendidikan. Gambaran tentang itu tampak dalam tulisan yang berjudul “Hikajat Bahasa Blanda di Indonesie”. Tulisan dimuat di mingguan Sin Po No 156 yang terbit 27 Maret 1926. Berikut tulisannya:

Halaman:

Editor: Adi Ginanjar Maulana

Tags

Artikel Terkait

Terkini

X