Sejarah Hari Guru Nasional dan Profil Ki Hajar Dewantara

- Kamis, 25 November 2021 | 13:56 WIB
Ilustrasi Hari Guru Nasional. (Pixabay/Aditio Tantra Danang Wisnu Wardhana)
Ilustrasi Hari Guru Nasional. (Pixabay/Aditio Tantra Danang Wisnu Wardhana)

AYOINDONESIA.COM -- Hari Guru Nasional diperingati setiap tanggal 25 November sebagai pengingat atas jasa guru yang begitu besar kepada bangsa ini.

Dilansir dari suara.com, sejarah terciptanya Hari Guru Nasional berawal dari adanya Persatuan Guru Hindia Belanda (PGHB) pada tahun 1912. Dua bulan setelah Kemerdekaan Indonesia, yakni tanggal 24 sampai 25 November 1945 para guru membentuk kongres mendukung kemerdekaan Indonesia di kota Surakarta sekaligus menjadi momen lahirnya Persatuan Guru Republik Indonesia (PGRI).

Pada tahun 1994, seiring peringatan ulang tahun PGRI, Hari Guru Nasional dicetuskan dalam Keputusan Presiden, yaitu Kepres No. 78 Tahun 1994 dan juga ditulis di UU No. 14 Tahun 2005.

Berbicara tentang Hari Guru Nasional tidak bisa dilepaskan dengan sosok yang satu ini, Ki Hajar Dewantara, Bapak Pendidikan Indonesia. Berkat perjuangannya yang luar biasa, masyarakat Indonesia bisa merasakan pendidikan pada zaman penjajahan.

Ki Hajar Dewantara lahir dengan nama Raden Mas Soewardi Soerjaningrat. Ia lahir dari lingkungan keluarga Kadipaten Pakualaman di Yogyakarta, yang merupakan salah satu kerajaan pecahan Dinasti Mataram.

Baca Juga: Biografi Ki Hajar Dewantara, Kisah Hidup dan Jasanya bagi Pendidikan Indonesia

Menjadi keluarga bangsawan membuatnya mendapat pendidikan yang berkecukupan. Ia menamatkan sekolah di ELS (Sekolah Dasar Belanda), lalu melanjutkan ke STOVIA (Sekolah Dokter Bumiputera) meski tidak ia tamatkan akibat sakit yang dideritanya.

Ki Hajar Dewantara dikenal sebagai aktivis sekaligus jurnalis pergerakan nasional yang pemberani. Melalui tulisan-tulisannya, ia menyampaikan kritik terkait pendidikan di Indonesia. Ki Hajar tidak setuju dengan sistem pendidikan kala itu yang hanya boleh dinikmati oleh para keturunan Belanda dan dan orang kaya saja.

Dikutip dari buku Ki Hajar Dewantara dan Taman Siswa dalam Sejarah Indonesia Modern (1986) karya Abdurrachman Surjomihardjo, Tiga Serangkai diasingkan ke Belanda sejak 1913 karena tulisannya yang dianggap menghina pemerintah.

Halaman:

Editor: Dudung Ridwan

Tags

Terkini

X