Jeritan 'Kupu - Kupu' Malam di Bandung, Terpaksa Jadi PSK Demi Menafkahi Anak

- Rabu, 15 September 2021 | 08:17 WIB
Ilustrasi pekerja seks komersial atau PSK alias kupu-kupu malam (Pixabay/Orna Wachman )
Ilustrasi pekerja seks komersial atau PSK alias kupu-kupu malam (Pixabay/Orna Wachman )

BANDUNG, AYOINDONESIA.COM--Kehidupan kupu-kupu malam di Kota Bandung sudah menjadi rahasia umum.

Sebelum pandemi Covid-19, praktik pekerja seks komersial (PSK) tersebut kerap ditemukan di beberapa sudut Kota Bandung.

Saat ini kondisi pandemi Covid-19, kehidupan PSK dipesan melalui online.

Kupu-Kupu malam, memang sebuah kiasan indah yang disematkan kepada mereka yang sering dianggap hina. Kiasan ini ditujukan kepada para wanita yang menjajakan tubuhnya demi sesuap nasi untuk menyambung hari esok.

Sebagian orang menganggap mereka hina, sebagian lainnya iba dengan pahitnya jalan hidup yang ditempuh oleh sang 'kupu-kupu'. Bahkan, bagi segelintir orang mereka dicari demi memuaskan hasrat gelap dalam dirinya.

Dulu, profesi ini identik dengan wanita menor bediri manja di keramaian berharap pria hidung belang melirik dan tertarik. Meski tak tahu kapan dirinya bisa menjual 'jasa' yang ia tawarkan.

Sekarang zaman sudah canggih, mereka tak perlu lelah berdiri menahan dinginnya udara malam yang menusuk tulang. Seraya menggoda setiap pria yang menelanjangi mereka dengan tatapan penuh nafsu.

Baca Juga: Kasus Narkoba Anji Bakal Disidangkan Secara Online Hari Ini

Handphone, satu alat yang membuat profesinya sedikit lebih mudah. Kini, sang Kupu-kupu sibuk menatap layar untuk menawarkan jasa mereka melaui Sosial Media dan pesan singkat.

Sebut saja Angel (38), ia berprofesi sebagai kupu kupu malam secara halus. Jasa yang ia tawarkan adalah pijat 'Terapi' yang berujung dengan kenikmatan sang hidung belang.

Ia terlihat cemas seraya menatap layar handphonenya dengan seksama. Berharap ada notifikasi dari mereka yang ingin merasakan lentik jemarinya menari di atas tubuh sang tamu.

Tak lama, nada sering itu muncul di telpon genggamnya. Ya, itu adalah notifikasi dari pasien yang ingin 'mencoba' jasa yang ia tawarkan. Senyum tersungging di bibirnya karena baginya, dering ponsel itu tak hanya peringatan pesan yang masuk. Dering itu bermakna ia bisa menyambung hidup setidaknya untuk esok hari.

Angel menawarkan jasanya melalui pesan singkat dan rekomendasi mulut ke mulut dari pria yang pernah ia layani. Berlokasi tak jauh dari perempatan terlama di Kota Bandung, sudah tak terhitung jumlah tamu yang pernah ia layani.

Faktor ekonomi seolah jadi alasan klasik bagi para wanita memilih profesi ini. Namun ada cerita menyedihkan di balik senyum ramah Angel pada setiap pelanggannya.

Baca Juga: Syarat Dapat BLT Kuliah Rp2,4 Juta dan Kuota Gratis dari Kemendikbud

Ditinggal Mati Suami

Kisahnya berawal ketika delapan tahun silam ia ditinggal pergi oleh suami tercintanya. Suami Angel meninggal saat memasang instalasi pendingin ruangan di Kota Cimahi.

Suami dari wanita asal timur Jawa Barat ini terjatuh dari lantai atas bangunan dan menimpa kabel listrik bertegangan tinggi. Menyebabkan sang suami terbakar akibat sengatan listrik sebelum akhirnya terjatuh ke tanah.

"Pas kejadian teteh posisi lagi di kampung tiba-tiba ada telfon dari temen kerja suami. Bilang kalau suami teteh dibawa ke rumah sakit, jatoh dari lantai atas katanya," Ujar Angel kepada Ayobandung.com jaringan Ayoindonesia.com, Rabu, 14 September 2021.

Setelah itu, Angel bergegas berangkat bersama kedua anaknya yang berusia 5 dan 1 tahun 6 bulan. Pada saat itu, Angel belum mengetahui bahwa suaminya tersengat listrik dan terbaring dalam keadaan koma.

"Sampe di rumah sakit, saya nangis liat kondisi suami saya. Selang (infus) nyambung kemana mana, fisik terbakar dan mengeluarkan darah. Sedih saya kalo inget kejadian itu," jelas Angel sambil terisak.

Tak lama Angel tiba, ia menyapa suaminya dalam kondisi koma dan tak sadarkan diri. Ia menangis sambil meminta maaf kepada suaminya pada saat saat terakhir bersama kedua anaknya.

"Ketika teteh beres pileuleuyan sama suami, keliatan suami saya meski sedang tak sadar meneteskan air mata. Gak lama kemudian kondisinya menurun lalu meninggal. Seolah seperti nunggu teteh dateng," tambahnya.

Keluarga mengikhlaskan kepergian sang suami dan menganggap kecelakaan kerja. Pihak tempat suaminya bekerja memberikan santunan kematian pada keluarga dan sepakat untuk tidak memperpanjang masalah.

Halaman:

Editor: Adi Ginanjar Maulana

Tags

Artikel Terkait

Terkini

Jadwal dan Lokasi Vaksinasi Covid-19 Kota Blitar Terbaru

Selasa, 28 September 2021 | 13:54 WIB
X