Kisah Mahasiswa di Surabaya yang Berikan Trauma Healing pada Anak-Anak Pasca Erupsi Semeru

- Senin, 20 Desember 2021 | 14:59 WIB
Relawan memberikan trauma healing. (Humas Unusa)
Relawan memberikan trauma healing. (Humas Unusa)



LUMAJANG, AYOINDONESIA.COM -- Sejumlah elemen masyarakat berduyun-duyun memberikan bantuan logistik berupa pakaian, obat-obatan, hingga makanan dan minuman kepada para korban selamat yang mengungsi pada sejumlah posko pasca erupsi Gunung Semeru, Kabupaten Lumajang, Jawa Timur (Jatim).

Selain memberikan bantuan sandang dan pangan, ada pula sejumlah relawan yang masih tinggal di area pengungsian untuk memberikan bantuan psikologis. Salah satunya dengan memberikan trauma healing bagi pada pengungsi, terutama anak-anak.

Salah satu mahasiswa Unusa, Putri Wahyuni mengatakan, ia beserta sejumlah rekannya terjun langsung memberikan trauma healing kepada anak-anak. Sekaligus, untuk melakukan pemeriksaan kesehatan di wilayah Pronojiwo, Kabupaten Lumajang, Jatim.

Putri menuturkan, ia dan sejumlah rekannya sengaja turun ke lokasi pengungsian dalam misi kemanusiaan, terutama untuk membantu anak-anak mengatasi masalah psikologi pasca bencana. Salah satu metode yang dilakukan adalah menghibur, dengan cara mengajak para anak-anak mendengarkan cerita dan bermain.

"Metode yang kami lakukan untuk membuat anak-anak ceria dan melupakan apa yang baru saja dialami. Karena, mereka (anak-anak) yang paling tertekan dengan adanya bencana," kata Putri, Senin,20 Desember 2021.

Putri menjelaskan, pasca bencana erupsi Gunung Semeru, anak-anak ayang menjadi warga sekitar erupsi Semeru cenderung diam dan tak nafsu makan. Selain trauma, ia menganggap anak-anak juga masih beradaptasi dengan lokasi pengungsi yang tak pernah dialami sebelumnya. "Mereka masih merasa sedih dan memilih menyendiri. Selain itu, ada juga anak yang harus kehilangan orangtuanya," ujarnya.

Mahasiswa S1 Keperawatan itu berkisah, ketika berada di pengungsian, ada anak kelas 1 SD yang mengalami kendala psikologis berat lantaran belum menemukan kedua orangtuanya hingga kini. Menurutnya, kondisi kesehatan dan mentalnya kian terpuruk. Bahkan, membuat anak tersebut lemas, menyendiri, dan enggan makan dan minum di pengungsian

Putri menyatakan, ia dan sejumlah relawan berupaya melakukan pendekatan. Lalu, membujuk anak berusia 7 tahun itu untuk ikut main bersama. "Kondisi ini membuat anak tersebut mulai bisa (berangsur-angsur) aktif kembali," tuturnya.

Selama proses pendekatan untuk menjalani trauma healing, dirasa tak semudah yang dibayangkan. Sebab, masih saja ada beberapa anak yang memilih untuk menyendiri.

Menurutnya, hal itu merupakan tantangan tersendiri baginya. Meski begitu, ia dan para relawan terus memberikan support yang membuat anak-anak bisa bangkit dan kembali ceria seperti sedia kala.

Halaman:

Editor: Dudung Ridwan

Tags

Artikel Terkait

Terkini

X